KMM MESIR | Official Website: Artikel
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Falsafah Minangkabau (Bagian I)

Written By Salman Arif on Kamis, 02 April 2015 | 21.41

Oleh: Wahyudi Rahman
Rasanya tidak berlebihan jika ada yang berkata bahwa adat kita, adat Minangkabau merupakan perpaduan sukses antara falasafah adat dan agama Islam. Tentu itu semua tidak lepas dari usaha para pendahulu kita yang berusaha sedemikian rupa mengimplementasikan nilai agama dalam praktik adat yang ada di tengah masyarakat. Hingga kita dapati misalnya asas yang sangat dijaga, “adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”.

Ketika kita telusuri lebih jauh, adat Minang sangat memperhatikan aspek akhlak serta ilmu pengetahuan bagi masyarakat dan ini sangat selaras dengan ajaran-ajaran agama. Adanya aturan dalam bertutur kata yang kita kenal dengan “kato nan ampek, mandaki manurun, mandata jo malereang”  sangat sinkron sekali dengan perintah agama yang menyerukan manusia untuk berkata yang baik lagi sopan sebagaimana kita temukan dalam surat Al-Baqarah ayat 83 “… dan berkatalah kepada manusia dengan baik…” Juga kita dapati dalam hadits Rasulullah SAW, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam”. Tentu yang dimaksud Rasul dengan perkataan yang baik mencakup dari segi isi serta penyampaian.

Dalam masalah keilmuan, kita dapati istilah “Alam takambang jadi guru”. Disini kita bisa memahami bagaimana adat Minang mendorong masyarakatnya untuk berfikir mentadaburi alam  dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Bukankah ini sejalan dengan seruan agama yang selalu menyuruh pemeluknya untuk selalu berfikir dan merenungi apa yang ada di alam semesta bahkan dalam diri sendiri.

Teori falsafah Minang ini bukanlah teori khayalan belaka, namun teori ilmiah yang akan membantah pendapat kebanyakan filosof Eropa bahwa orang Timur tidak mampu untuk berfikir (berfilsafat). Sebagaimana yang diungkapkan comte de gobineau bahwa bangsa Timur menurutnya bukan ras unggulan, tidak memiliki kemampuan ilmiah serta berfilasafat dan juga banyak kekurangan ketimbang bangsa Eropa. Dengan adanya falsafah ini tentu menjadi dalil penguat untuk membantah konsep yang ditawarkan oleh tokoh Perancis ini.

Disisi lain ada poin penting yang harus kita sadari, apakah keberadaan falsafah Minang ini masih ada dan dijalankan oleh masyarakatnya atau hanya tinggal teori. Setidaknya jangan sampai falsafah Minang yang bagus ini akan hilang ditelan zaman hanya karna masyarakatnya sudah tidak peduli lagi sebagaimana nasib sebagian besar filsafat Yunani kuno yang hanya bisa kita dapati di atas lembaran kertas.

Bersambung ke bagian II

TERLENA!

Written By Salman Arif on Selasa, 31 Maret 2015 | 02.35

Oleh: Wahyudi Rahman
Siapa yang tidak akan bangga jika kampungnya dipuji oleh orang? Tokohnya disebut-sebut sebagai lakon sejarah yang penting dan sangat dihargai. Senang sekali rasanya mendengar itu semua. Bahkan mungkin tidak jarang kita langsung larut dalam obrolan sembari membeberkan sederet nama lainnya untuk dibanggakan dan dibicarakan. Menyebut jasa serta apa yang telah diberikan oleh mereka. Tidak lupa pula membandingkan satu sama lainnya. Bisa saja obrolan seperti ini selesai sampai tengah malam. Berjam-jam hanya untuk mengenang masa lalu. Kita bangga dengan masa silam, jangan heran jika ada yang berkata bahwa orang Minang ini sama seperti orang Mesir,  “sama-sama sangat bangga dengan masa lalu”.

Kita bangga ketika ada yang menyebut atau mungkin kita sendiri yang mengatakannya, “Urang awak manjadi tokoh pantiang sastra Indonesia, urang awak manjadi tokoh agamo nan pantiang di negara ko, urang awak jadi negarawan, jadi artis,jadi  jadi jadi…” Maka akan muncul sederetan nama yang dibahas dalam percakapan itu. Tapi hey, itu semua adalah masa lalu, sekarang bagaimana? Tulisan ini bukan berarti mengajak kita untuk tidak menghargai masa lalu, akan tetapi hanya ingin mempertanyakan kepada kita semua, untuk apa kita sibuk mengenang masa lalu jika hanya untuk dikenang begitu saja dan lupa dengan masa kini? Kita terlena! Saya yakin semua tokoh itu tidak mengharapkan namanya disebut-sebut dalam obrolan, jika itu hanya untuk berbangga banggan.

Mengenang masa lalu yang baik adalah ketika kita mampu mengambil pelajaran serta menjadikannya cambukan untuk masa depan, kita memang bangga pada Buya Hamka dengan sederet jasa yang ditinggalkan beliau, dengan tafsir Al-Azharnya, dengan sekumpulan sastranya, tapi jangan terlena dengan kebanggaan, yang sekarang mana? Mana tokoh Minang yang telah mengikuti jejak Buya Hamka? Yang akan menggantikan tongkat estafet dari beliau?

Kita bangga dengan Bung Hatta, Sutan Syahrir, H. Agus Salim dan deretan negarawan lainnya yang telah berjasa untuk bangsa ini, berperan aktif membela dan membangun Indonesia, tapi jangan terlena dengan kebanggaan, yang sekarang mana? Mana tokoh Minang baru yang akan melanjutkan perjuangan bapak-bapak ini ? Kita bangga, kita terlena! Jangan sampai kenangan melupakan kita akan masa kini.





Profil Syaikh Al-Azhar ke 16-20

Written By Salman Arif on Senin, 20 Januari 2014 | 12.06


16. Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar (1182-1250 H/1768 -1834 M)


Beliau adalah al-Imam Syaikh Hasan bin Muhammad bin al-‘Aththar, seorang keturunan ahli bait (syarif/habib) dari Maroko yang lahir di Kairo pada tahun 1180 H/ 1766 M. Dalam riwayat lain beliau lahir pada tahun 1182 H/1768 M. Sejak kecil beliau telah menampakkan kecerdasannya. Beliau merasa iri kepada anak-anak seusia beliau yang menghafalkan Alquran di al-Azhar. Tanpa sepengetahuan ayahanda beliau menghafalkan Alquran dalam waktu yang singkat. Setelah ayahanda beliau mengetahuinya, beliau dimasukkan ke al-Azhar dan berguru kepada Syaikh Amir dan Syaikh al-Shabban.

Syaikh Hasan bin Muhammad bin al-‘Aththar tidak puas hanya dengan menguasai ilmu agama. Beliau juga belajar ilmu teknik dan matematika. Di balik penjajahan Perancis yang kejam, beliau bisa mengambil hikmah dengan mengikuti ekspedisi utusan Mesir ke Syam dan Perancis. Menurut beliau, Perancis memang penjajah tapi juga membukakan mata para ulama dengan ilmu-ilmu baru yang modern.

Beliau rajin menulis catatan tentang ilmu kedokteran, anatomi tubuh dan ilmu perbintangan. Selain itu beliau juga berdakwah ke berbagai daerah di Mesir. Semua yang beliau tulis dan beliau sampaikan dicetak di surat kabar “al-Waqai’ al-Mishriyah”, surat kabar pertama di Mesir yang berdiri tahun 1828 M.

Pada tahun 1246 H/1830 M Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ahmad al-Damhuji. Selain mengajar di al-Azhar, beliau juga mendirikan madrasah “al-Alsun” yang fokus mengajarkan ilmu Geografi dan peta bumi.

Kealiman dan wibawa Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar menjadi kebanggaan Mesir dan dunia Islam. Ketika beliau mengajar di masjid al-Azhar, ulama-ulama besar lain meliburkan pengajiannya dan ikut menimba ilmu kepada beliau. Betatapun dzalimnya Muhammad Ali Basya, pemimpin Mesir yang berkuasa pada tahun 1805 -1848, dia selalu meminta pertimbangan masalah negara kepada Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar.

Murid beliau yang terkenal adalah Syaikh Muhammad Ibad al-Thanthawi dan Syaikh Rifa’ah al-Thahthawi. Syaikh Rifa’ah al-Thahthawi adalah murid beliau yang pertama kali disuruh untuk mengajarkan ilmu dengan model ceramah tanpa berpegang pada satu kitab saja.

Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar adalah seorang penulis produktif, karya-karya beliau di antaranya:

- Hasyiyah al-‘Aththar ala al-jauhar al-muntadzamat fi uqud al-maqulat
- Hasyiyah al-‘Aththar ala al-tahdzib li al-Imam al-Jabishi
- Hasyiyah al-‘Aththar ala Jam’u al-jawami’ fi ushul al-fiqh
- Hasyiyah ala Syarh al-Jurumiyah wa al-Samarqandiyah
- Diwan al-Aththar
- Nubdzah fi ilm al-jirahah wa al-thib

Hidup Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar telah diabdikan untuk Mesir dan umat Islam. Beliau wafat pada tahun 1250 H/1834 M.



17. Syaikh Hasan al-Quwaysni

Beliau adalah al-Imam Burhanuddin Hasan bin Darwis bin Abdullah bin Muthawi’ al-Quwaysni. Lahir dan besar di desa Quwaysna, Markaz Jakfariyah Propinsi Gharbiyah. Meskipun beliau seorang tuna netra, tapi beliau sudah menghafalkan Alquran sejak kecil dan menguasai dasar-dasar ilmu agama untuk melanjutkan pendidikan di al-Azhar.

Di Kairo beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, di antaranya adalah tiga orang Syaikh al-Azhar, yaitu Syaikh al-Arusi, Syaikh al-Damhuji dan Syaikh al-Aththar. Beliau terkenal zuhud dan tidak tertarik pada harta dunia. Pernah beliau menolak hadiah dari penguasa Mesir saat itu, Muhammad Ali Pasha.

Syaikh Hasan al-Quwaysni adalah seorang ulama yang tajam pikirannya, fasih lisannya dan kuat hafalannya. Beliau tidak pernah mendengar sebuah hadits Nabi dan perkataan para ulama kecuali langsung bisa menghafalnya. Beliau mengajar secara rutin di masjid al-Azhar dengan metode yang unik, yaitu kitab dan waktunya diserahkan kepada murid-murid yang akan menimba ilmu. Banyak sekali murid beliau yang menjadi ulama besar, seperti Syaikh al-Bajuri, Syaikh al-Dzhahabi, Syaikh al-Bannani dan Syaikh Rifa’ah al-Thahthawi.

Dalam hal keilmuan Syaikh Hasan al-Quwaysni disebut-sebut sebagai ‘pesaing’ Syaikh Hasan Muhammad al-Aththar . Ini terbukti setelah wafatnya Syaikh al-Aththar, beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1250 H/1834 M.

Meskipun tuna netra, Syaikh Hasan al-Quwaysni adalah seorang penulis produktif. Karya-karya beliau, di antaranya:
- Syarah al-Sulam fi al-mantiq
- Sunan al-Quwaysni
- Risalah fi al-mawarits wa ilm al-fiqh.

Beliau memimpin al-Azhar selama empat tahun dan wafat pada tahun 1254 H/1838 M.

18. Syaikh Ahmad al-Safti
 
Beliau adalah al-Imam al-Jalil Syaikh Ahmad bin Abdul Jawwad al-Safti al-Syafi’i al-Azhari. Lahir pada awal abad ke-13 H di desa Saft al-Irfa, pinggiran kota Fasyn Propinsi Bani Suwef. Syaikh Ahmad al-Safti lebih dikenal dengan nama Ahmad Shoim karena beliau ahli puasa di siang hari dan menjadi abid di malam harinya.

Di al-Azhar beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Sinbawi yang terkenal dengan sebutan Syaikh Amir al-Kabir, kepada Syaikh al-Syinwani, Syaikh al-Damhuji dan ulama lainnya. Murid beliau yang terkenal di antaranya adalah Syaikh al-Bajuri, Syaikh al-Arus al-Hafid, Syaikh al-Abbasi al-Mahdi dan ulama yang lainnya.

Beliau adalah seorang ulama madzhab Syafi’i yang paling terkemuka di zamannya. Hal itulah yang menjadi salah satu sebab beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1254 H/ 1838 M menggantikan Syaikh Hasan al-Quwaysni.

Karya-karya beliau di antaranya:
-Ijazah kitab yang diberikan kepada Ahmad bin Muhammad al-Jerjawi
-Ijazah kitab yang diberikan kepada Syaikh Hasanain Ahmad al-Malath al-Hanafi

Syaikh Ahmad al-Safti memimpin al-Azhar selama Sembilan tahun dan wafat pada tahun 1263 H/ 1847 M.

19. Syaikh Ibrahim al-Bajuri (1198 -1227 H)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Syafi’i al-Bajuri. Lahir di kampung al-Bajur Propinsi Manufiyah pada tahun 1198 H/1784 M. Beliau sejak kecil diasuh dan dididik oleh ayahanda, menghafalkan Alquran dan mendalami dasar-dasar ilmu agama untuk kemudian berangkat ke Kairo pada tahun 1212 H.

Ketika Kairo diduduki oleh penjajah Perancis, Syaikh Ibrahim al-Bajuri meninggalkan Kairo untuk sementara dan kembali lagi setelah keadaan dianggap kondusif. Di al-Azhar beliau belajar kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh Muhammad al-Amir, Syaikh al-Syarqawi, Syaikh al-Quwaysni dan ulama yang lain.

Ilmu beliau begitu cepat berkembang, setiap siang sampai Isya beliau belajar dan mengajar kepada para murid serta menulis buku, setelah malam tiba beliau membaca Alquran dengan suara yang merdu dan didengarkan oleh ratusan orang. Beliau adalah ulama madzhab Syafi’i paling terkemuka di zamannya.

Pada tahun 1263 H/1847 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ahmad al-Shafti. Pada saat itu pemimpin Mesir Abbas I beberapa kali mengikuti pengajian beliau di al-Azhar dan mencium tangan beliau.

Di zaman pemerintahan Said Pasha, Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit. Beliau kerepotan mengurus al-Azhar. Kemudian beliau mewakilkan urusan administrasi al-Azhar kepada empat orang, yaitu Syaikh Ahmad al-adawi, Syaikh Ismail al-halabi, Syaikh Khalifah al-Fasyni dan Syaikh Musthafa al-Shawi. Empat orang syaikh tersebut kemudian mengangkat seorang ketua yaitu Syaikh Musthafa al-Arusi.

Karya-karya beliau, di antaranya:
- Tuhfat al-murid ‘ala Jauhar al-tauhid
- Hasyiyah ‘ala matn al-sunusiyah
- Hasyiyah ‘ala al-sa’ad li al-‘aqaid al-nasfiyah
- Minah al-fattah ala dhaui al-misbah fi al-nikah
- Ta’liq ‘ala al-Kassyaf
- Hasyiyah al-bajuri, fikih Syafi’i (salah satu kitab populer dan menjadi kurikulum pesantren salaf Indonesia)

Walaupun beliau sakit sekian lamanya, tetapi untuk menghormati kedudukan beliau sebagai seorang alim, al-Azhar tidak mengangkat seorang Syaikh al-Azhar sampai beliau wafat pada tahun 1227 H.
 

20. Syaikh Musthafa al-‘Arusi (1213-1293 H/ 1798- 1876 M)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Musthafa bin Muhammad bin Ahmad bin Musa bin Dawud al-‘Arusi. Lahir di Kairo pada tahun 1213 H/1798 M. Ayah dan kakek beliau adalah Syaikh al-Azhar, yaitu Syaikh Muhammad Syamsuddin al-‘Arusi (Syaikh al-Azhar keempat belas) dan Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi (Syaikh al-Azhar kesebelas).

Sejak kecil beliau dididik oleh ayahanda, menghafalkan Alquran dan mempelajari dasar-dasar ilmu agama untuk kemudian belajar di al-Azhar. Beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh al-Bajuri, Syaikh al-Shafti dan Syaikh al-Quwaysni.

Ketika Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit dan tidak bisa menjalankan roda administrasi al-Azhar, beliau memilih empat orang ulama untuk mengurus al-Azhar. Empat orang ulama tersebut kemudian memilih Syaikh Musthafa al-‘Arusi sebagai ketuanya.

Setelah Syaikh Ibrahim al-Bajuri wafat, Syaikh Musthafa al-‘Arusi diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1281 H/ 1864 M. Beliau kembali mengajar di al-Azhar setelah sekian lama absen karena sibuk menjalankan roda administrasi al-Azhar. Pada saat itulah beliau melakukan langkah-langkah kontroversial.

Menurut pandangan beliau, saat itu banyak diantara penghafal Alquran yang mencari uang dengan hafalannya. Terdapat juga beberapa pengajar di masjid al-Azhar yang sebenarnya belum layak untuk mengajar. Beliau dengan telaten mendatangi majlis-majlis di al-Azhar, mendengarkan, melontarkan pertanyaan sekaligus mendebatnya untuk kemudian memecat pengajarnya yang tidak memenuhi kriteria mengajar. Di samping itu beliau juga melarang pengemis melakukan oprasinya di al-Azhar. Bahkan, setelah itu beliau menerapkan kebijakan untuk melakukan seleksi penerimaan pengajar di al-Azhar.

Beliau terkenal tegas dan berwibawa, namun langkah-langkah beliau mengundang rasa hasud di kalangan orang-orang yang kecewa. Termasuk dalam barisan sakit hati adalah Gubernur Mesir saat itu, Khudaiwi Ismail Pasha.

Ismail Pasha mengkudeta Syaikh Musthafa al-‘Arusi dari kursi Syaikh al-Azhar pada tahun 1287 H/1870 M. Dia tidak memiliki alasan yang jelas dengan keputusannya itu. Sebagian orang mengatakan hal itu disebabkan karena langkah Syaikh Musthafa al-‘Arusi yang melarang pengemis beroprasi di masjid al-Azhar dan menerapkan sistem seleksi untuk para pengajar al-Azhar. Namun itu bukanlah alasan yang kuat, karena pada kenyataannya, pada masa kepemimpinan Syaikh al-Azhar selanjutnya kebijakan tersebut masih berlaku. Yang jelas, tindakan Ismail Pasha disebabkan kedzaliman dan ketakutan yang ada dalam dirinya, karena dia takut al-Azhar akan bersama rakyat mengkudeta dirinya dari kursi Gubernur. Selain itu, tindakan Ismail Pasha juga disinyalir sebagai intruksi Perancis dan Inggeris.

Rakyat Mesir tidak suka terhadap gaya pemerintahan Ismail Pasha. Selain mengkudeta Syaikh al-Azhar dia juga tidak bisa mengurus keuangan negara dengan baik. Ekonomi Mesir saat itu bangkrut. Kemudian rakyat melakukan revolusi. Karena saat itu Mesir di bawah kendali Turki Utsmani, Ismail Pasha yang menjabat sebagai gubernur dicopot dari jabatannya oleh Sultan Hamid II pada tahun 1879 M.

Karya-karya Syaikh Musthafa al-‘Arusi, di antaranya:
- Hasyiyah ala Syarh Syaikh Zakariya al-Anshari li al-dirasah al-qusyairiyah (tasawuf)
- Kasyf al-ghummah wa taqyid ma’ani ad’iyat sayyid al-ummah
- Al-qaul al-fashl fi madzhab dzawi al-fadl
- Al-anwar al-bahiyah

Setelah Syaikh Musthafa al-‘Arusi tidak lagi memimpin al-Azhar, beliau tinggal di kediaman selama 6 tahun dan wafat pada tahun 1293 H/ 1876 M.
 

Sumber: Suara Al-Azhar 

Akhlak Seorang Azhari

Written By RuwaqID on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 14.20

Oleh: Irwan Fares Dja'far

CyberKMM
-Akhlak selalu menjadi kajian menarik yang tak ada habis-habisnya. Sejak awal adanya aktifitas ilmiah keislaman, akhlak telah menjadi sebuah persoalan yang tidak dianggap remeh oleh para ulama.

Namun era moderen seolah membuat akhlak terdengar kolot bahkan tak berguna. Ilmuan-ilmuan orientalis yang notabenenya mempelajari Islam untuk mencari kelemahannya malah menjadi acuan utama.

Sebut saja Ignác Goldziher, penulis Muhammedanische Studien (Muslim Studies/Dirâsah Muahmmadiyyah), buku yang menjadi “Injil” Orientalis, mengambil istilah Dr. Mustafa al ‘Azhamy. Atau Christian Snouck Hurgronje, yang berjasa besar untuk Belanda dalam menaklukan serambi Makkah, Aceh. Ada juga William Montgomery Watt, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, Karen Armstrong dan banyak lagi, yang bisa dijamin aktifitas belajar mereka tidak didahului dengan pembekalan akhlak.

Namun adalah sebuah kekeliruan jika para orientalis menjadi acuan seorang penuntut ilmu syariat, karena para ilmuan orientalis melakukan aktifitas ilmiah mereka karena ingin mencari titik lemah agama penuh mukjizat ini. Prof. Dr. Syamsuddin Arif mengatakan dalam buku beliau Orientalis dan Diabolisme Pemikiran bahwa hal ini didorong oleh rasa iri mereka terhadap agama yang membawa rahmat dunia-akhirat ini. Iri dengan segala kesempurnaan yang tidak dimiliki agama mereka. Akan tetapi pelajar Islam sejati melakukan aktifitas ilmiahnya ikhlas, karena tahu bahwa janji Allah pasti nyata. Oleh sebab itu, akhlak menjadi awal sebelum melangkah ke proses selanjutnya dalam menuntut ilmu.

Akan tetapi sepertinya menjaga akhlak seorang thâlibu’l ilmi hanya menjadi wacana yang belum membudaya di kalangan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Pasca peristiwa 30 Juni yang membuat masyarakat Mesir pecah menjadi dua kubu, Masisir juga terpecah. Dan perpecahan ini juga berdampak pada akhlak.

Tidak bisa kita pungkiri keberadaan ulama pada masing-masing kubu. Ada yang sekedar mengambil posisi, hingga terlibat langsung. Mereka adalah ulama-ulama besar, ulama yang telah banyak berjasa bagi umat Islam Mesir, bahkan dunia.

Merakalah yang menjadi acuan para mahasiswa yang juga ikut serta mengambil sikap dan posisi, terlepas dari latar belakang sikap tersebut. Ada yang mengikuti seorang ulama karena kecintaan terhadap beliu. Ada juga yang mengikuti seorang ulama sebagai murid yang pernah belajar langsung di majlis ilmu sang guru. Ada juga yang mendukung penuh seorang ulama sebagai sikap hormat terhadap para ulama atau berbagai alasan yang terlalu pajang untuk dituliskan.

Penulis tidak akan membahas dan mengkaji hujah yang disampaikan oleh para ulama masing-masing kubu. Biarlah yang demikian menjadi urusan masing-masing pribadi. Yang menjadi poin penting di sini adalah bagaimana akhlak seorang penuntut ilmu syariat saat dihadapkan pada perbedaan pendapat.

Sependapat atau tidak sependapat dengan hujah seorang ulama atau kelompok apapun merupakan sebuah kewajaran di kalangan thâlibu’l ilmi. Menganalisis hujah-hujah serta membandingkannya juga tidak dilarang, selagi analisis tersebut berjalan dalam kaidah yang telah digariskan oleh para ulama.

Namun saat realita bicara, maka saat kita bisa lihat sapaan diskusi adalah sindiran tajam, bahasa dialog adalah tuduhan, argumen yang diutarakan adalah pembunuhan karakter dan sebuah perbincangan pun dapat berakhir dengan kebencian. Na’uzubillah!

Padahal sejak aktifitas ilmiah Islam mulai terbentuk, akhlak selalu menjadi pondasi utama. Terbukti dengan banyaknya kitab yang dikarang mengenai hal dasar ini, seperti al-Jâmi` li Akhlâqirrawi wa Âdâbissâmi` karya Imam Abu Bakar al-Khatib al-Baghdady, Tazkiratussâmi` wa’l Mutakallim fi Adâbi’l`alim wa’lmuta`allim karya Imam Ibnu Jama’ah al-Kinnaniy, serta Ta`lîmu’lmuta`llim, kitab yang sangat familiar  bagi kalangan pesantren karya Imam az-Zarnujy. Bahkan masih banyak kitab-kitab lain yang dikarang oleh ulama untuk membahas masalah akhlak.

Dalam kasus ini, implementasi akhlak seorang mahasiswa al-Azhar yang moderat paling tidak akan terlihat dari bagaimana ia menerapkan manhaj al-Azhar dalam menyikapai perbedaan.

Yang pertama, selalu menjauhi taklid setiap mengkaji masalah. Bahkan saat menemukan dalil yang lebih kuat maka seorang thalibu’l ilmi dituntut mengambil dalil tersebut, walau tidak sesuai dengan mazhab yang dianut. “Jangan mengenali kebenaran lantaran tokoh, tapi carilah kebenaran itu sendiri, maka kamu akan mengenal tokohnya!”pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Saat seseorang terbelenggu taklid, maka saat itulah matanya buta dari kebenaran. Padahal seorang thalibu’l ilmi dituntut untuk menganalisis sebelum menerima, karena di sanalah perbedaan antara orang berilmu dengan orang awam.

Ada sebuah kejadian menarik yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Beberapa tahun yang lalu, seorang murid menyanggah pendapat seorang guru di majlis ilmu Usul Fikih di Masjid al-Azhar. Untuk membantah sang guru, si murid berargumen bahwasanya Syekh Fulan memandang masalah yang tengah dibahas saat itu bertentangan dengan pemahan sang guru. Dengan tenang sang guru meluruskan cara pandang dalam menganalisis permasalahan. Beliau berkata,“Sampaikanlah dalil, jangan menyebut Syeikh Fulan tanpa mengurangi rasa hormat kita terhadap beliau. Mari kita analisa dalil yang dikemukankan.”

Yang kedua, sikap lapang dada pada kelompok yang memiliki pemahaman berbeda, karena untuk sesama muslim saja Allah memerintahkan untuk saling berbaik sangka, tentu kepada para ulama perintah tersebut lebih ditekankan.

Yang ketiga, tidak memvonis pribadi atau kelompok dalam dialog, karena sikap ini jauh dari ajaran Islam dan manhaj al-Azhar. Sikap tuduh-menuduh seperti ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah.

Yang keempat, bagaimanapun kuatnya perbedaan pendapat yang terjadi sesama ulama, biarlah itu menjadi urusan pribadi mereka. Para ulama selalu menegaskan bahwa pertentangan mereka harus disimpan dan tidak boleh disampaikan. Inilah kaidah berharga dalam menyikapi perbedaan yang mulai jauah dari ranah ilmiah. Karena daging para ulama itu adalah racun.

Saat manhaj ini diterapkan, saat itulah seorang mahasiswa dapat menganalisa dengan akal sehat sehingga ia bisa melihat sebuah kebenaran dengan jernih, pastinya diiringi dengan akhlak terpuji. Mungkin disinilah salah satu hikmah doa yang Sayyidina Umar bin Khatthab,

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

Wallahu a’lam.


Tulisan ini  pernah dimuat di Buletin Informatika edisi 171/1-15 Oktober 2013

Profil Syaikh Al-Azhar ke 11-15

Written By Salman Arif on Rabu, 11 September 2013 | 12.32

11. Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi (1133-1208 H)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Syihabuddin Abu Shalah Ahmad bin Musa bin Dawud al-Arus al-Syafi’i al-Azhari. Lahir pada tahun 1133 H/1721 M di desa Minya Arus, Markaz Asymun, Propinsi Manufiyah. Minya Arus adalah desa yang sangat kecil namun melahirkan banyak ulama. Di sanalah beliau menghafalkan al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama guna melanjutkan studi di al-Azhar.

Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi belajar Matematika, al-Jabar dan ilmu wawancara kepada ayahanda beliau. Kemudian beliau melanggengkan belajar kepada Syaikh al-Bakri tentang berbagai macam ilmu. Beliau juga tekun belajar kepada Syaikh Ahmad al-Sha’idi dan Syaikh al-Azhar kesepuluh, Syaikh Ahmad al-Damanhuri.

Beliau belajar kitab Shahih Bukhari kepada Syaikh Ahmad al-Malawi, belajar tafsir al-Baydhawi dan tafsir Jalalain kepada Syaikh al-Azhar ketujuh, Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Syabrawi.

Dalam hal keilmuan, beliau Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi berpesan kepada murid-muridnya untuk tidak serampangan dalam belajar, tapi mendalaminya secaranya sungguh-sungguh.

Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi adalah salah satu Syaikh al-Azhar yang menganut madzhab Syafi’i. Beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1192 H/1778 M menggantikan Syaikh Ahmad al-Damanhuri. Pada masa kepemimpinan beliau terjadi banyak fitnah besar yang menimpa bangsa Mesir, seperti penyerangan pasukan Ahmad Agha terhadap penduduk Husain. Di sanalah peran beliau sangat penting dalam menghadapi pertikaian yang terjadi.

Karya-karya beliau, di antaranya:
-Syarh Nadzm al-Tanwir fi isqat al-tadbir li Syaikh al-Malawi (tasawuf)
-Hasyiah al-Malawi ala al-Samarqandiyah (balaghah)

Hidup Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi telah diabdikan untuk umat Islam dan bangsa Mesir, hingga akhirnya beliau wafat pada 21 Sya’ban 1208 H.

12. Syaikh Abdullah al-Syarqawi (1150 H -1227 H)


Beliau adalah al-Imam al-Syaikh Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Syafi’i al-Azhari al-Syarqawi. Lahir di desa al-Thawilah Propinsi Syarqiyah pada tahun 1150 H/1737 M. Setelah menghafalkan al-Qur’an di desa beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.

Di al-Azhar beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka sehingga beliau menjadi mufti madzhab Syafi’i. Kemudian beliau menapak jalan sufi dengan berguru kepada Syaikh al-Kurdi. Beliau hidup bersahaja dan sederhana meskipun telah dikelilingi harta dunia.

Tahun 1218 H/1793 beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi. Pada Masa kepemimpinan beliau Mesir dijajah oleh Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Syaikh Abdullah al-Syarqawi adalah salah satu dari sepuluh ulama Dewan Syuro Mesir yang berusaha didekati Napoleon. Beliau menasehati hakim Mesir saat itu untuk bersikap adil kepada rakyat dan tidak membebani mereka dengan pajak yang tinggi. Atas saran beliau juga, hakim Mesir mengirimkan surat kepada Napoleon untuk memberi penghormatan secara militer kepada para ulama dan memuliakannya.

Napoleon Bonaparte takjub dengan kepribadian para ulama al-Azhar yang dikepalai oleh Syaikh Abdullah al-Syarqawy. Dia juga kagum terhadap Islam dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw, terutama setelah dia pulang dari Syam. Napoleon mengatakan bahwa dirinya mencintai Islam, mengagungkan Nabi Muhammad Saw, menghormati al-Qur’an dan membaca setiap hari. Di Mesir dia bermaksud membangun masjid terbesar di dunia dan ingin pula dia memeluk agama Islam.

Napoleon mengatakan bahwa jika dirinya masuk Islam maka dia akan mampu untuk mengislamkan seluruh tentaranya. Dalam sebuah pertemuan dengan para ulama al-Azhar Napoleon meminta Syaikh al-Syarqowi berfatwa kepada rakyat Mesir untuk taat dan patuh kepada dirinya. Kemudian Syaikh al-Syarqawi menegaskan kepada Napoleon bahwa jika dia masuk Islam maka seratus ribu tentara Arab akan berada di bawah benderanya dan membantunya menaklukkan dunia Timur. Namun Allah berkehendak lain, Napoleon tidak masuk Islam.

Kedudukan Syaikh al-Syarqawi sangat diperhitungkan oleh penjajah Perancis. Seringkali beliau membela rakyat dan pemimpin Mesir dari tindasan penjajah, walaupun pada akhirnya Perancis tahu kalau beliau bersekongkol dengan tokoh-tokoh Mesir yang lain untuk memberontak kepada Perancis. Beliau dijebloskan ke dalam penjara al-Qal’ah, namun tidak lama kemudian dibebaskan karena pihak Perancis membutuhkan beliau.

Setelah Perancis meninggalkan Mesir, rakyat Mesir ditindas oleh orang-orang Turki Utsmani, orang-orang Kurdi dan orang-orang Dinasti Mamalik. Rakyat berbondong-bondong meminta perlindungan kepada Syaikh al-Syarqawi. Akhirnya beliau bersama para ulama dan ribuan rakyat Mesir menurunkan pemimpin Mesir Hurshid Pasha dan mengangkat Muhammad Ali sebagai pemimpin yang baru. Saat itulah rakyat Mesir pertama kali memilih pemimpinnya sendiri. Namun sayang Muhammad Ali ternyata bukan pemimpin yang baik, dia congkak dan tidak amanah.

Meskipun keadaan Mesir saat itu berkecamuk, namun Syaikh Abdullah al-Syarqawi tetap aktif menulis. Karya-karya beliau, diantaranya:
-Al-tuhfah al-bahiyyah fi thabaqat al-syafi’iyah
-Al-aqaid al-masyriqiyyah (tauhid)
-Al-Jawahir al-saniyah fi syarhi al-aqaid al-masyriqiyyah
-Hasyiyah al-Syarqawi
-Hasyiyah ala syarh al-Hudhudi
-Syarh hikam ibn Athoillah al-Sakandari

Salah satu jasa beliau adalah membangun ruwaq Syarqawiyah di masjid al-Azhar. Hidup beliau diabdikan untuk al-Azhar dan rakyat Mesir, hingga akhirnya beliau wafat pada hari Kamis 2 Syawwal 1227 H.

13. Syaikh Muhammad al-Syinwani

Beliau adalah al-Imam Syaikh Muhammad bin Ali bin Mansur al-Syinwani al-Syafi’i al-Azhari. Lahir di desa Syinwan Barat, Propinsi Manufiyah. Seperti umumnya anak-anak desa pada waktu itu, beliau menghafalkan al-Qur’an sejak sejak kecil untuk kemudian melanjutkan pendidikan di al-Azhar.

Syaikh Muhammad al-Syinwani menimba ilmu kepada ulama al-Azhar terkemuka, seperti Syaikh al-Sha’idi dan Syaikh al-Dardiri. Beliau terkenal sebagai ahli bahasa Arab, ilmu kalam dan ilmu teknik.

Kepribadian beliau sangat sederhana dan bersahaja. Sebelum diangkat menjadi Syaikh al-Azhar beliau mengajar di sebuah masjid kecil di dekat rumah beliau. Konon beliau sangat menjaga kebersihan, sehingga setelah mengajar beliau langsung ganti pakaian dan langsung menyapu masjid.

Setelah Syaikh Abdullah al-Syarqawi wafat, penguasa Mesir saat itu menyuruh Qadhi Mesir untuk mengumpulkan para ulama guna mengangkat Syaikh al-Azhar yang baru. Para ulama sepakat untuk memilih Syaikh Muhammad al-Syinwani meskipun beliau menolaknya. Namun pada akhirnya beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada bulan Syawwal tahun 1227 H/ 1812 M.

Karya-karya beliau, di antaranya:
- Hasyiyah ala Syarh Jauhar al-tauhid
- Al-Jiwar al-Saniyah bi mauled khoiril bariyah
- Hasyiyah al-Syinwani ala muhkhtashor al-Bukhori li ibn Hamza
- Hasyiyah ala Samarqandiyah (balaghoh)

Hidup beliau diabdikan untuk al-Azhar sehingga pada hari Rabu 14 Muharram 1333 H/1818 M beliau dipanggil oleh Allah yang Maha Kuasa.

14. Syaikh Muhammad Syamsuddin al-‘Arusi

Beliau adalah Syaikh al-Imam Muhammad bin al-Imam Ahmad bin Musa bin Dawud al-‘Arusi. Beliau lahir di Kairo dan merupakan putra Syaikh al-Azhar kesebelas, yaitu Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi. Sejak kecil beliau belajar dan menghafalkan Alquran serta dasar-dasar ilmu agama kepada ayahanda beliau.

Ketika Syaikh Muhammad al-Syinwani wafat, para ulama sepakat untuk mengangkat beliau menjadi Syaikh al-Azhar. Beliau diangkat bukan karena wibawa ayahnya yang alim lagi kesohor, tapi karena memang beliau layak untuk memimpin al-Azhar.

Aktifitas beliau setiap hari adalah mengajar di masjid al-Azhar dari pagi sampai malam. Sebab itulah beliau tidak sempat menulis buku kecuali satu judul saja, yaitu “Musthalah al-hadits”.

Beliau memimpin al-Azhar selama dua belas tahun dan wafat pada tahun 1245 H/ 1829M.

15. Syaikh Ahmad al-Damhuji (1170 H-1246 H / 1765 M-1830 M)
 

Beliau adalah al-Imam Syaikh Ahmad Zain Ali bin ahmad al-Damhuji. Lahir di Kairo pada tahun 1170 H/ 1765 M. Meskipun beliau lahir di Kairo tetapi keluarga besar beliau tinggal di kampung Damhuj Propinsi Manufiyah. Karena itulah nama beliau dinisbatkan kepada kampung tersebut.

Di al-Azhar beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada syaikh-syaikh al-Azhar pendahulunya. Rumah beliau berada di belakang masjid al-Azhar, tepatnya di belakang ruwaq Sha’ayidah. Beliau memiliki suara yang bagus, berpenampilan rapi dan berwibawa.

Setelah Syaikh Muhammad Syamsuddin al-‘Arusi wafat, tahun 1245 H/1829 M Syaikh Ahmad al-Damhuji diangkat menjadi Syaikh al-Azhar dalam umur 70 tahun. Sepanjang sejarah al-Azhar, penguasa Mesir selalu tunduk dan taat kepada Syaikh al-Azhar. Terdapat dokumen negara tentang pengangkatan Syaikh Ahmad al-Dahmuji. Isinya adalah:
1. Bahwasanya wali/penguasa Mesir ingin mendapat keridhaan dari para ulama al-Azhar. Wali mesir mengatakan bahwa tujuan utama pemerintah Mesir adalah mendapat tempat di hati para fuqaha masjid al-Azhar.
2. Wali Mesir mendukung para ulama senior dalam pemilihan Syaikh al-Azhar.
3. Wali Mesir akan memudahkan dan membantu semua kebijakan Syaikh al-Azhar, dan Syaikh Ahmad al-Damhuji adalah ulama senior yang pantas untuk mempimpin al-Azhar.

Syaikh Ahmad al-Damhuji istiqamah mengajar di masjid al-Azhar, mulai dari Shubuh sampai petang. Adapun malamnya beliau gunakan untuk berdzikir dan shalat tahajjud. Beliau memimpin al-Azhar dalam waktu yang sangat sebentar, yaitu selama enam bulan. Beliau wafat pada malam Iedul Adha setelah melaksanakan wukuf di Arafah pada tahun 1246 H/1830 M.






Profil Syaikh Al-Azhar ke 6-10

6. Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayoumy (1062 H-1137H /1652 -1725 M)


Beliau lahir di desa Fayoum, propinsi Fayoum, Mesir pada tahun 1062 H/1652 M. Setelah menghafalkan al-Qur’an di desa, beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.
Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayoumy menimba ilmu fikih Maliki kepada Syaikh al-Azhar pertama, yaitu Syaikh Muhammad al-Kharrasyi, dan menimba ilmu fikih Syafii kepada Syaik al-Azhar kedua, yaitu Syaikh Ibrahim al-Barmawy. Dari dua madzhab tersebut, beliau memilih untuk menganut madzhab Maliki. Adapun ilmu hadits, beliau menimbanya kepada Syaikh Yahya al-Syawi dan Syaikh Abdurrahman al-Ajhuri. Selain itu, beliau juga menimba ilmu kepada ulama besar yang lain, seperti Syaikh al-Syibramalisyi, Syaikh al-Zurqani, Syaikh Syihab dan Syaikh Ahmad al-Basyisyi.

Beliau dikenal sebagai ahli hadits dan ahli ilmu bahasa Arab. Karangan beliau yang terkenal adalah al-Muqaddimah al-fariyyah li al-jama’ah al-azhariyah, sebuah buku tentang ilmu sharaf yang merupakan penjabaran dari kitab karangan Abu Hasan al-Syadzily al-Maliki.

Pada tahun 1133 H/1721 M Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayoumy diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Muhammad Syanan.

Selain memimpin al-Azhar, beliau juga aktif mengajar di masjid al-Azhar. Salah satu kitab yang beliau ajarkan adalah kitab al-Risalah karangan Syaikh Muhammad al-Kharrasyi. Murid beliau yang terkenal adalah Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Syafi’i, pengarang syarah al-Akhdhoriy fi al-Mantiq dan hasyiyah ‘ala Syanusiyah. Termasuk murid beliau adalah penulis handal, Syaikh Ali bin Ahmad al-Sha’idiy al-Adawiy al-Maliki.

Syaikh Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayoumy memimpin al-Azhar sampai umur tujuh puluh tahun, dan beliau wafat pada subuh 1 Rajab tahun 1137H/ 1725 M.


7. Syaikh Abdullah al-Syabrawy (1091-1171 M)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Amir bin Syarafuddin al-Syabrawy. Lahir di Kairo pada tahun 1091 M.

Kecerdasan beliau sudah terlihat semenjak kecil. Beliau menghafalkan al-Quran sejak kanak-kanak dan ketika menginjak umur 8 tahun, beliau telah menimba ilmu kepada Syaikh al-Azhar pertama, yaitu Syaikh Muhammad al-Kharrasyi. Bukan hanya mengaji, dalam usia yang sangat belia itu, beliau sudah dizinkan oleh Syaikh Muhammad al-Kharrasyi untuk mengajarkan ilmu yang telah beliau peroleh.

Syaikh Abdullah al-Syabrawy terkenal sebagai seorang penyair dan ahli sastra Arab. Dalam ilmu syair beliau berguru kepada seorang penyair paling terkemuka di zamannya, Syaikh Hasan al-Badr. Adapun ilmu fikih beliau menimbanya kepada Syaikh Syihabudin al-Nahliy. Beliau juga berguru kepada para ulama yang lain, seperti Syaikh Khalil al-Luqony, Syaikh al-Zarqany dan Syaikh al-Nafrawiy.

Dalam bermadzhab beliau menganut madhzab Syafi’i. Murid-murid beliau adalah ulama yang terkenal di zamannya, seperti ahli fikih Syaikh Ali bin Syamsyuddin Muhammad al-Syafi’i al-Khadhriy, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Abdussalam al-Zamzamy al-Makky, juga seorang pemimpin Mesir yang ahli Syair, Abdullah Pasha bin Mustafa Pasha.
Pada tahun 1137 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ibrahim Musa al-Fayoumy dalam umur 34 tahun.

Karya-karya Syaikh Abdullah al-Syabrawy sangat banyak. Beliau menulis tentang sastra, nahwu, sharaf, balaghah dan hadits. Di antara karya beliau adalah:
- Mafatih al-althaf fi madaih al-asyraf
- Al-ithaf bi hubb al-asyraf
- Al-istighotsah al-syabrawiyah
- ‘Unwan al-bayan wa nisyan al-adzhan (balaghah)
- Sanad al-Syabrawy (hadits)

Beliau memimpin al-Azhar selama 45 tahun dan wafat pada tahun 1171 M.

8. Syaikh Muhammad al-Hifni (1100-1181 H)


Beliau adalah Syaikh al-Imam Muhammad bin salim al-Hifni al-Syafi’i al-Khalwati al-Husaini. Lahir di kampong Hifna, Bilbis, propinsi Syarqiya pada tahun 1100 H/1689 M. Seperti kebiasaan di kampung beliau, semenjak kecil beliau menghafalkan al-Quran. Ketika berumur 14 tahun, beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.

Di al-Azhar beliau mengaji kitab Ihya Ulumudin, tafsir dan hadits kepada Syaikh al-Badiri al-Dimyati. Pada umur 24 tahun beliau telah mahir dan menguasai berbagai cabang ilmu; nahwu, sharaf, fikih, mantiq, ushul, dan lain sebagainya.

Syaikh Muhammad al-Hifni menganut madzhab Syafi’i. Adapun dalam tarekat, sejak muda beliau telah menjalani suluk sufi. Beliau sering mengunjungi zawiyah Syaikh Syahin al-Khalwati. Pada umur 30 tahun beliau mengambil baiat tarekat Khalwatiyah kepada Syaikh Ahmad al-Syadzili al-Maghribi. Kemudian beliau mendalami tarekat tersebut kepada Imam Sayyid Mustafa bin Kamaluddin.

Pada tahun 1171 H/1787 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Abdullah al-Syabrawi.

Karya-karya beliau, diantaranya:
-Al-tsamrah al-bahiyyah fi asma al-shahabah
-Hasyiyah ala Syarh al-utsmuni (nahwu)
-Anfusu nafaisi al-durar
-Hasyiyah ala Syarh al-Samarqandi
-Hasyiyah ala al-Jami’ al-shaghir li as-Syuyuthi

Beliau memimpin al-Azhar selama sepuluh tahun. Selama itu pelajar dari seluruh muka bumi menimba ilmu kepada beliau. Para ulama di zaman itu berlomba-lomba mengambil ijazah ilmu dari beliau. Para pemimpin Mesir selalu bermusyawarah dalam hal kenegaraan dengan beliau, dan suatu kebijakan negara belum akan diputuskan sebelum meminta pertimbangan kepada beliau.

Lidah umat Islam seakan tidak pernah berhenti menyebut nama Syaikh Muhammad al-Hifni, sampai banyak buku biografi tentang beliau ditulis, seperti yang ditulis oleh Syaikh Hasan al-Maki dan Syaikh al-Damanhuri.

Pada hari Sabtu sebelum Dhuhur tanggal 27 Rabiul Awwal 1181 H beliau telah kembali ke Rahmat Allah yang Maha Abadi.

9. Syaikh Abdurrauf al-Sujayni (1154-1182 H/1741-1768 M)

Beliau adalah Syaikh Abdurrauf bin Muhammad Abdurrahman bin Ahmad al-Sujayni. Lahir di desa Sujayn, propinsi Gharbiyah pada tahun 1154 H/1741 M. Nama julukan beliau adalah Abu al-Juud karena beliau terkenal dermawan kepada fakir miskin.

Syaikh Abdurrauf mengahafalkan al-Qur’an di desa beliau dan menimba ilmu kepada ayahanda dan paman beliau, Syaikh Syamsuddin al-Sujayni. Beliau juga menimba ilmu kepada Syaikh al-Azhar kedelapan, yaitu Syaikh Muhammad al-Hifni. Dalam madzhab fikih beliau menganut madzhab Syafi’i.

Beliau sangat masyhur di kalangan umat Islam sebelum diangkat menjadi Syaikh al-Azhar karena kealiman dan kedermawanan beliau. Beliau adalah kepala ruwaq Syarqawiyah sebelum akhirnya pada tahun tahun 1181 H/1767M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Muhammad al-Hifni.

Pada masa kepemimpinan Syaikh Abdurrauf Mesir mulai dijajah negara asing sehingga biografi tentang beliau tidak tertuliskan dengan rapi. Hal itu juga disebabkan karena kepemimpinan beliau sangat sebentar, yaitu tidak genap satu tahun. Beliau wafat pada tahun 1182 H/1768 M dalam usia 28 tahun.

10. Syaikh Ahmad al-Damanhuri (1101-1192 H)

Beliau adalah Imam Ahmad bin Abdul Mun’im bin Yusuf bin Shiyam al-Damanhuri al-Azhari. Lahir di desa Damanhur Barat, propinsi Buhaira. Beliau adalah seorang yatim yang tidak mempunyai orang yang menanggung kehidupan beliau. Sebelum berumur sepuluh tahun beliau telah menghafalkan al-Qur’an dan menguasai ilmu kaligrafi, tulis menulis dan ilmu hisab. Selanjutnya beliau pergi ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar dan mulai saat itulah kehidupan beliau ditanggung oleh al-Azhar.

Syaikh Ahmad al-Damanhuri berguru kepada para ulama terkemuka, salah satunya adalah Syaikh Ali al-Za’tari, seorang pakar ilmu hisab. Selain itu beliau rajin membaca buku-buku umum, sehingga beliau menjadi keajaiban al-Azhar; menjadi alim yang mahir ilmu kesehatan, ahli teknik, ahli astronomi, ahli filsafat dan ahli ilmu kedokteran.

Beliau menimba ilmu kepada para ulama fikih madzhab empat dan diberikan izin untuk mengajarkannya kepada murid-murid beliau. Meski begitu beliau tetap memilih satu di antara madzhab empat tersebut, yaitu madzhab Syafi’i. Selain mengajar di masjid al-Azhar, beliau juga mengajar di masjid Husain setiap hari Jum’at.

Pada tahun 1182 H beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Abdurrauf al-Sujayni. Beliau memimpin al-Azhar selama sepuluh tahun.

Karya-karya beliau, di antaranya:
-Kasyfu al-litsam ‘an tahaddirat al-afham fi al-basmalah wa alhamdulilla
-Hulyah al-lubbi al-Mashun Syarah Jauhar Maknun (balaghah)
-Nihayat al-ta’rif bi aqsam al-hadits al-dha’if
-Syarah al-aufaq al-adadiyah

Pada 10 Rajab 1192 H beliau wafat dalam umur 91 tahun.





Profil Syaikh Al-Azhar ke 1-5

1. Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi

 
Beliau adalah Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Ali al-Kharrasyi, orang pertama yang diangkat menjadi Syaikh al-Azhar. Lahir di desa Abu Kharrasy, markaz Syabrakhit, propinsi Buhayra tahun 1010 H/1601 M.

Beliau dididik oleh para ulama terkemuka, seperti ayah beliau sendiri, Syaikh Jamaludin Abdullah al-Kharrasyi, Syaikh Luqony, Syaikh al-Ajhury, Syaikh al-Syamy dan syaikh-syaikh yang lain. Para syaikh mengajarkan beliau kurikulum al-Azhar, berupa ilmu-ilmu agama, ilmu bahasa, sejarah, mantiq dan ilmu kalam.

Murid Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi sangat banyak, lebih dari seratus orang yang menjadi ulama besar, seperti Syaikh Ibrahim bin Musa al-Fayyumy yang menggantikan beliau sebagai Syaikh al-Azhar.

Kehidupan beliau sangat sederhana. Beliau pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membawanya sendiri.

Beliau selalu berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan tidak pernah telat shalat berjamaah di masjid al-Azhar. Madzhab fikih yang beliau anut adalah madzhab Maliki. Beliau menganutnya karena kecintaan beliau yang mendalam kepada Imam Malik.

Beberapa faktor yang menjadikan beliau seorang imam dengan derajat tinggi dalam keilmuan Islam adalah:
- Guru-guru beliau yang alim, seperti Syaikh Jamaludin Abdullah al-Kharrasyi, Syaikh Luqony, Syaikh al-Ajhury, Syaikh al-Syamy

- Banyaknya buku yang beliau baca dan pelajari, seperti al-Kaukab al-Munir syarh al-Jami al-Shaghir, al-Faraid al-Saniyah syarh al-Mukaddimah al-Sanusiyah dan kitab yang lainnya.

- Beliau rajin mengaji di al-Azhar dan madrasah-madrasah yang lain, seperti madrasah al-Iqbighawiyah

- Kunjungan beliau ke negeri-negeri Islam di barat dan di Timur dalam kunjungan ilmiah dan kebudayaan.

Karya-kara beliau:

- Risalah fi Basmalah
- Fathu al-Jalil, fikih Maliki
- Al-Syarh al-Kabir, tentang fikih
- Al-Syarh al-Shaghir, ringkasan al-Syarh al-Kabir
- Muntaha al-Raghbah
- Dan lain-lain.

Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi istiqamah shalat Subuh berjamaah sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada tanggal 27 Dzulhijjah 1101 H/ 1690 M. pada usia 90 tahun.

2. Syaikh Ibrahim al-Barmawy
Beliau adalah Syaikh al-Alamah al-Imam Ibrahim bin Muhammad bin Syihabuddin bin Khalid al-Barmawy. Lahir di desa Barma, markaz Thanta, propinsi Gharbiyah.

Masa kecil beliau dihabiskan dikampung dengan lingkungan yang sangat islami. Saat itu di desa Barma terdapat banyak ulama yang mengajarkan ilmu agama dan kebudayaan. Sebut saja, Syaikh Syamsuddin al-Barmawy dan Syaikh Ali al-Barmawy. Konon, lingkungan beliau di desa adalah faktor utama yang menjadikan beliau seorang ulama besar yang disegani.

Syaikh Ibrahim al-Barmawy menghafal al-Qur’an dan belajar di al-Azhar kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh Abu al-Abbas Syihabuddin Muhammad bin Ahmad al-Qulyuby. Syaikh Ibrahim adalah ulama Syafi’iyyah terkemuka di zamannya. Salah satu murid beliau adalah Syaikh Ibrahim al-Bayumi yang kelak juga diangkat menjadi Syaikh al-Azhar.

Beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada tahun 1101 H. menggantikan Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Kharrasyi.

Karya-karya beliau, diantaranya:
- Hasyiyah ala Syarh al-Syaikh al-Qarrafy
- Hasyiyah ala Syarh Abu Qasim
- Risalah fi ahkam fal-qaul haul al-kalb wa al-khinzir ala madzab al-Syafi’i
- Al-mitsaq wa al-‘ahd fi man ta’allama fi al-mahd

Syaikh Ibrahim al-Barmawy telah mewakafkan diri beliau kepada halaqah ilmiyah al-Azhar, hingga pada tahun 1106 beliau meninggalkan al-Azhar dan ummat Islam untuk selamanya.

3. Syaikh Muhammad al-Nasyraty

Beliau lahir di desa Nasyrat, propinsi Kafr al-Syaikh. Beliau menghafalkan al-Qur’an dan belajar di al-Azhar al-Syarif.

Syaikh Muhammad al-Nasyraty adalah ulama Madzhab Maliki terkemuka. Pada tahun 1106 H/ 1694 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ibrahim al-Barmawy.

Beliau dikenal sebagai gudang mutiara keilmuan. Hari-hari beliau dihabiskan untuk mengajar, salah satunya di madrasah al-Aqbahawiyyah (sekarang menjadi perpustakaan masjid al-Azhar). Walaupun tidak meninggalkan karangan ilmiah, tapi beliau mendidik murid-muridnya menjadi penulis handal, seperti Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Dayraby al-Syafi’I, Syaikh Shaleh Abd al-Hayyi bin Hasan bin Zainal Abidin, Syaikh Ahmad bin Hasan bin Abdul Karim al-Syafi’i dan Syaikh Abdul Baqy al-Qulainy yang kelak juga diangkat menjadi Syaikh al-Azhar.
Pada tanggal 28 Dzulhijjah 1120 H/1708 M Syaikh Muhammad al-Nasyraty wafat dan disholati di masjid al-Azhar oleh ribuat umat Islam.

4. Syaikh Abdul Baqy al-Qulayny

Beliau lahir di desa Qulayn, propinsi Kafr al-Syaikh. Desa Qulayn terkenal sebagai desa yang melahirkan ulama besar, di sanalah beliau menghafalkan al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Syaikh Abdul Baqy al-Qulayny kemudia berguru kepada para ulama terkemuka, utama kepada dua Syaikh agung yang menjadi Syaikh al-Azhar, yaitu Syaikh Ibrahim al-Barmawy dan Syaikh Muhammad al-Nasyraty.

Pada tahun 1120 H/1708 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Muhammad al-Nasyraty.

Dalam madzhab fikih beliau menganut madzhab Maliki. Selain menjadi Syaikh al-Azhar, aktifitas beliau sehari-hari adalah mengajar. Beliau terkenal wara’ dan berprinsip untuk menjadikan muridnya orang-orang yang hebat, sehingga karya-karya beliau tidak terkenal. Salah satu murid beliau adalah penulis handal madzhab Maliki, yaitu Syaikh Muhammad Shalahuddin al-Barlasy.

Pada tahun 1132 H/1719 Syaikh Abdul Baqy al-Qulayny menghadap Allah Sang Maha Pencipta.


 5. Syaikh Muhammad Syanan (1065-1133 H/1643-1721 M)

Beliau lahir pada tahun 1065 H. di desa al-Jadyah, sebuah desa di propinsi Buhaira yang saat itu menjadi sentral pertanian Mesir. Setelah menghafalkan al-Qur’an di desa, beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.

Syaikh Muhammad Syanan adalah seorang kaya raya, bahkan disebut-sebut sebagai orang terkaya di zamannya. Beliau memiliki banyak emas, perak dan budak belian. Namun hal itu tidak memalingkan beliau dari belajar agama dan pada akhirnya beliau menjadi ahli fikih madzhab Maliki paling terkemuka.

Pada tahun 1132 H/1719 M. beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Abdul Baqy al-Qulayny.

Pada masa kemimpinan beliau, masjid al-Azhar mengalami kerusakan di beberapa sudut. Beliau menjadi pelopor renovasi masjid al-Azhar dengan harta beliau sendiri. Selain itu, beliau juga mengirim surat permohonan bantuan kepada Sultan Turki Utsmani, Sultan Ahmad III melalui gubernurnya di al-Qal’ah. Surat permohonan itu ditandatangani oleh beliau sendiri dan beberapa pejabat Mesir serta para pembesar Mamalik. Sultan Ahmad III mengabulkannya dan mengirimkan dana sebanyak lima tas diwani untuk membantu renovasi masjid al-Azhar.

Syaikh Muhammad Syanan mengabdikan diri sebagai pelayan umat Islam. Ilmu beliau menyebar di seluruh penjuru dunia Islam, di Barat dan di Timur. Sampai akhirnya umat Islam kehilangan beliau untuk selamanya pada tahun 1133 H/1721.

 
Copyright © 2013. KMM MESIR | Official Website - All Rights Reserved
Adress: Block 502 Complex Emarat 1st Settlement New Cairo Egypt Telp: (+202)22478245
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Modified by @salmanpiar