16. Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar (1182-1250 H/1768 -1834 M)
Beliau adalah al-Imam Syaikh Hasan bin Muhammad bin al-‘Aththar,
seorang keturunan ahli bait (syarif/habib) dari Maroko yang lahir di
Kairo pada tahun 1180 H/ 1766 M. Dalam riwayat lain beliau lahir pada
tahun 1182 H/1768 M. Sejak kecil beliau telah menampakkan kecerdasannya.
Bel
iau merasa iri kepada anak-anak
seusia beliau yang menghafalkan Alquran di al-Azhar. Tanpa sepengetahuan
ayahanda beliau menghafalkan Alquran dalam waktu yang singkat. Setelah
ayahanda beliau mengetahuinya, beliau dimasukkan ke al-Azhar dan berguru
kepada Syaikh Amir dan Syaikh al-Shabban.
Syaikh Hasan bin
Muhammad bin al-‘Aththar tidak puas hanya dengan menguasai ilmu agama.
Beliau juga belajar ilmu teknik dan matematika. Di balik penjajahan
Perancis yang kejam, beliau bisa mengambil hikmah dengan mengikuti
ekspedisi utusan Mesir ke Syam dan Perancis. Menurut beliau, Perancis
memang penjajah tapi juga membukakan mata para ulama dengan ilmu-ilmu
baru yang modern.
Beliau rajin menulis catatan tentang ilmu
kedokteran, anatomi tubuh dan ilmu perbintangan. Selain itu beliau juga
berdakwah ke berbagai daerah di Mesir. Semua yang beliau tulis dan
beliau sampaikan dicetak di surat kabar “al-Waqai’ al-Mishriyah”, surat
kabar pertama di Mesir yang berdiri tahun 1828 M.
Pada tahun
1246 H/1830 M Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar diangkat menjadi
Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ahmad al-Damhuji. Selain mengajar di
al-Azhar, beliau juga mendirikan madrasah “al-Alsun” yang fokus
mengajarkan ilmu Geografi dan peta bumi.
Kealiman dan wibawa
Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar menjadi kebanggaan Mesir dan dunia
Islam. Ketika beliau mengajar di masjid al-Azhar, ulama-ulama besar
lain meliburkan pengajiannya dan ikut menimba ilmu kepada beliau.
Betatapun dzalimnya Muhammad Ali Basya, pemimpin Mesir yang berkuasa
pada tahun 1805 -1848, dia selalu meminta pertimbangan masalah negara
kepada Syaikh Hasan bin Muhammad al-‘Aththar.
Murid beliau yang
terkenal adalah Syaikh Muhammad Ibad al-Thanthawi dan Syaikh Rifa’ah
al-Thahthawi. Syaikh Rifa’ah al-Thahthawi adalah murid beliau yang
pertama kali disuruh untuk mengajarkan ilmu dengan model ceramah tanpa
berpegang pada satu kitab saja.
Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar adalah seorang penulis produktif, karya-karya beliau di antaranya:
- Hasyiyah al-‘Aththar ala al-jauhar al-muntadzamat fi uqud al-maqulat
- Hasyiyah al-‘Aththar ala al-tahdzib li al-Imam al-Jabishi
- Hasyiyah al-‘Aththar ala Jam’u al-jawami’ fi ushul al-fiqh
- Hasyiyah ala Syarh al-Jurumiyah wa al-Samarqandiyah
- Diwan al-Aththar
- Nubdzah fi ilm al-jirahah wa al-thib
Hidup Syaikh Hasan Muhammad al-‘Aththar telah diabdikan untuk Mesir dan umat Islam. Beliau wafat pada tahun 1250 H/1834 M.
17. Syaikh Hasan al-Quwaysni

Beliau adalah al-Imam Burhanuddin Hasan bin Darwis bin Abdullah bin
Muthawi’ al-Quwaysni. Lahir dan besar di desa Quwaysna, Markaz
Jakfariyah Propinsi Gharbiyah. Meskipun beliau seorang tuna netra, tapi
beliau sudah menghafalkan Alquran sejak kecil dan menguasai dasar-dasar
ilmu agama untuk melanjutkan pendidikan di al-Azhar.
Di Kairo beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, di antaranya
adalah tiga orang Syaikh al-Azhar, yaitu Syaikh al-Arusi, Syaikh
al-Damhuji dan Syaikh al-Aththar. Beliau terkenal zuhud dan tidak
tertarik pada harta dunia. Pernah beliau menolak hadiah dari penguasa
Mesir saat itu, Muhammad Ali Pasha.
Syaikh Hasan al-Quwaysni
adalah seorang ulama yang tajam pikirannya, fasih lisannya dan kuat
hafalannya. Beliau tidak pernah mendengar sebuah hadits Nabi dan
perkataan para ulama kecuali langsung bisa menghafalnya. Beliau mengajar
secara rutin di masjid al-Azhar dengan metode yang unik, yaitu kitab
dan waktunya diserahkan kepada murid-murid yang akan menimba ilmu.
Banyak sekali murid beliau yang menjadi ulama besar, seperti Syaikh
al-Bajuri, Syaikh al-Dzhahabi, Syaikh al-Bannani dan Syaikh Rifa’ah
al-Thahthawi.
Dalam hal keilmuan Syaikh Hasan al-Quwaysni
disebut-sebut sebagai ‘pesaing’ Syaikh Hasan Muhammad al-Aththar . Ini
terbukti setelah wafatnya Syaikh al-Aththar, beliau diangkat menjadi
Syaikh al-Azhar pada tahun 1250 H/1834 M.
Meskipun tuna netra, Syaikh Hasan al-Quwaysni adalah seorang penulis produktif. Karya-karya beliau, di antaranya:
- Syarah al-Sulam fi al-mantiq
- Sunan al-Quwaysni
- Risalah fi al-mawarits wa ilm al-fiqh.
Beliau memimpin al-Azhar selama empat tahun dan wafat pada tahun 1254 H/1838 M.
18. Syaikh Ahmad al-Safti
Beliau adalah al-Imam al-Jalil Syaikh Ahmad bin Abdul Jawwad al-Safti
al-Syafi’i al-Azhari. Lahir pada awal abad ke-13 H di desa Saft al-Irfa,
pinggiran kota Fasyn Propinsi Bani Suwef. Syaikh Ahmad al-Safti lebih
dikenal dengan nama Ahmad Shoim karena beliau ahli puasa di siang hari
dan menjadi abid di malam harinya.
Di al-Azhar beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, utamanya
kepada Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Sinbawi yang terkenal dengan
sebutan Syaikh Amir al-Kabir, kepada Syaikh al-Syinwani, Syaikh
al-Damhuji dan ulama lainnya. Murid beliau yang terkenal di antaranya
adalah Syaikh al-Bajuri, Syaikh al-Arus al-Hafid, Syaikh al-Abbasi
al-Mahdi dan ulama yang lainnya.
Beliau adalah seorang ulama
madzhab Syafi’i yang paling terkemuka di zamannya. Hal itulah yang
menjadi salah satu sebab beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada
tahun 1254 H/ 1838 M menggantikan Syaikh Hasan al-Quwaysni.
Karya-karya beliau di antaranya:
-Ijazah kitab yang diberikan kepada Ahmad bin Muhammad al-Jerjawi
-Ijazah kitab yang diberikan kepada Syaikh Hasanain Ahmad al-Malath al-Hanafi
Syaikh Ahmad al-Safti memimpin al-Azhar selama Sembilan tahun dan wafat pada tahun 1263 H/ 1847 M.
19. Syaikh Ibrahim al-Bajuri (1198 -1227 H)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Syafi’i
al-Bajuri. Lahir di kampung al-Bajur Propinsi Manufiyah pada tahun 1198
H/1784 M. Beliau sejak kecil diasuh dan dididik oleh ayahanda,
menghafalkan Alquran dan mendalami dasar-dasar ilmu agama untuk kemudian
berangkat ke Kairo pada tahun 1212 H.
Ketika Kairo diduduki oleh penjajah Perancis, Syaikh Ibrahim al-Bajuri
meninggalkan Kairo untuk sementara dan kembali lagi setelah keadaan
dianggap kondusif. Di al-Azhar beliau belajar kepada para ulama
terkemuka, utamanya kepada Syaikh Muhammad al-Amir, Syaikh al-Syarqawi,
Syaikh al-Quwaysni dan ulama yang lain.
Ilmu beliau begitu
cepat berkembang, setiap siang sampai Isya beliau belajar dan mengajar
kepada para murid serta menulis buku, setelah malam tiba beliau membaca
Alquran dengan suara yang merdu dan didengarkan oleh ratusan orang.
Beliau adalah ulama madzhab Syafi’i paling terkemuka di zamannya.
Pada tahun 1263 H/1847 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar
menggantikan Syaikh Ahmad al-Shafti. Pada saat itu pemimpin Mesir Abbas I
beberapa kali mengikuti pengajian beliau di al-Azhar dan mencium tangan
beliau.
Di zaman pemerintahan Said Pasha, Syaikh Ibrahim
al-Bajuri jatuh sakit. Beliau kerepotan mengurus al-Azhar. Kemudian
beliau mewakilkan urusan administrasi al-Azhar kepada empat orang, yaitu
Syaikh Ahmad al-adawi, Syaikh Ismail al-halabi, Syaikh Khalifah
al-Fasyni dan Syaikh Musthafa al-Shawi. Empat orang syaikh tersebut
kemudian mengangkat seorang ketua yaitu Syaikh Musthafa al-Arusi.
Karya-karya beliau, di antaranya:
- Tuhfat al-murid ‘ala Jauhar al-tauhid
- Hasyiyah ‘ala matn al-sunusiyah
- Hasyiyah ‘ala al-sa’ad li al-‘aqaid al-nasfiyah
- Minah al-fattah ala dhaui al-misbah fi al-nikah
- Ta’liq ‘ala al-Kassyaf
- Hasyiyah al-bajuri, fikih Syafi’i (salah satu kitab populer dan menjadi kurikulum pesantren salaf Indonesia)
Walaupun beliau sakit sekian lamanya, tetapi untuk menghormati
kedudukan beliau sebagai seorang alim, al-Azhar tidak mengangkat seorang
Syaikh al-Azhar sampai beliau wafat pada tahun 1227 H.
20. Syaikh Musthafa al-‘Arusi (1213-1293 H/ 1798- 1876 M)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Musthafa bin Muhammad bin Ahmad bin Musa
bin Dawud al-‘Arusi. Lahir di Kairo pada tahun 1213 H/1798 M. Ayah dan
kakek beliau adalah Syaikh al-Azhar, yaitu Syaikh Muhammad Syamsuddin
al-‘Arusi (Syaikh al-Azhar keempat belas) dan Syaikh Ahmad Musa
al-‘Arusi (Syaikh al-Azhar kesebelas).
Sejak kecil beliau dididik oleh ayahanda, menghafalkan Alquran dan
mempelajari dasar-dasar ilmu agama untuk kemudian belajar di al-Azhar.
Beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka, utamanya kepada Syaikh
al-Bajuri, Syaikh al-Shafti dan Syaikh al-Quwaysni.
Ketika
Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit dan tidak bisa menjalankan roda
administrasi al-Azhar, beliau memilih empat orang ulama untuk mengurus
al-Azhar. Empat orang ulama tersebut kemudian memilih Syaikh Musthafa
al-‘Arusi sebagai ketuanya.
Setelah Syaikh Ibrahim al-Bajuri
wafat, Syaikh Musthafa al-‘Arusi diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada
tahun 1281 H/ 1864 M. Beliau kembali mengajar di al-Azhar setelah sekian
lama absen karena sibuk menjalankan roda administrasi al-Azhar. Pada
saat itulah beliau melakukan langkah-langkah kontroversial.
Menurut pandangan beliau, saat itu banyak diantara penghafal Alquran
yang mencari uang dengan hafalannya. Terdapat juga beberapa pengajar di
masjid al-Azhar yang sebenarnya belum layak untuk mengajar. Beliau
dengan telaten mendatangi majlis-majlis di al-Azhar, mendengarkan,
melontarkan pertanyaan sekaligus mendebatnya untuk kemudian memecat
pengajarnya yang tidak memenuhi kriteria mengajar. Di samping itu beliau
juga melarang pengemis melakukan oprasinya di al-Azhar. Bahkan, setelah
itu beliau menerapkan kebijakan untuk melakukan seleksi penerimaan
pengajar di al-Azhar.
Beliau terkenal tegas dan berwibawa,
namun langkah-langkah beliau mengundang rasa hasud di kalangan
orang-orang yang kecewa. Termasuk dalam barisan sakit hati adalah
Gubernur Mesir saat itu, Khudaiwi Ismail Pasha.
Ismail Pasha
mengkudeta Syaikh Musthafa al-‘Arusi dari kursi Syaikh al-Azhar pada
tahun 1287 H/1870 M. Dia tidak memiliki alasan yang jelas dengan
keputusannya itu. Sebagian orang mengatakan hal itu disebabkan karena
langkah Syaikh Musthafa al-‘Arusi yang melarang pengemis beroprasi di
masjid al-Azhar dan menerapkan sistem seleksi untuk para pengajar
al-Azhar. Namun itu bukanlah alasan yang kuat, karena pada kenyataannya,
pada masa kepemimpinan Syaikh al-Azhar selanjutnya kebijakan tersebut
masih berlaku. Yang jelas, tindakan Ismail Pasha disebabkan kedzaliman
dan ketakutan yang ada dalam dirinya, karena dia takut al-Azhar akan
bersama rakyat mengkudeta dirinya dari kursi Gubernur. Selain itu,
tindakan Ismail Pasha juga disinyalir sebagai intruksi Perancis dan
Inggeris.
Rakyat Mesir tidak suka terhadap gaya pemerintahan
Ismail Pasha. Selain mengkudeta Syaikh al-Azhar dia juga tidak bisa
mengurus keuangan negara dengan baik. Ekonomi Mesir saat itu bangkrut.
Kemudian rakyat melakukan revolusi. Karena saat itu Mesir di bawah
kendali Turki Utsmani, Ismail Pasha yang menjabat sebagai gubernur
dicopot dari jabatannya oleh Sultan Hamid II pada tahun 1879 M.
Karya-karya Syaikh Musthafa al-‘Arusi, di antaranya:
- Hasyiyah ala Syarh Syaikh Zakariya al-Anshari li al-dirasah al-qusyairiyah (tasawuf)
- Kasyf al-ghummah wa taqyid ma’ani ad’iyat sayyid al-ummah
- Al-qaul al-fashl fi madzhab dzawi al-fadl
- Al-anwar al-bahiyah
Setelah Syaikh Musthafa al-‘Arusi tidak lagi memimpin al-Azhar, beliau
tinggal di kediaman selama 6 tahun dan wafat pada tahun 1293 H/ 1876 M.