Oleh: Irwan Fares Dja'far
CyberKMM-Akhlak selalu menjadi kajian menarik yang tak ada habis-habisnya. Sejak awal adanya aktifitas ilmiah keislaman, akhlak telah menjadi sebuah persoalan yang tidak dianggap remeh oleh para ulama.
Namun era moderen seolah membuat akhlak terdengar kolot bahkan tak berguna.
Ilmuan-ilmuan orientalis yang notabenenya mempelajari Islam untuk mencari
kelemahannya malah menjadi acuan utama.
Sebut saja Ignác Goldziher, penulis Muhammedanische Studien (Muslim
Studies/Dirâsah Muahmmadiyyah), buku yang menjadi “Injil”
Orientalis, mengambil istilah Dr. Mustafa al ‘Azhamy. Atau Christian Snouck
Hurgronje, yang berjasa besar untuk Belanda dalam menaklukan serambi Makkah, Aceh.
Ada juga William Montgomery Watt, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, Karen Armstrong
dan banyak lagi, yang bisa dijamin aktifitas belajar mereka tidak didahului
dengan pembekalan akhlak.
Namun adalah sebuah kekeliruan jika para orientalis menjadi acuan seorang
penuntut ilmu syariat, karena para ilmuan orientalis melakukan aktifitas ilmiah
mereka karena ingin mencari titik lemah agama penuh mukjizat ini. Prof. Dr.
Syamsuddin Arif mengatakan dalam buku beliau Orientalis dan Diabolisme
Pemikiran bahwa hal ini didorong oleh rasa iri mereka terhadap agama yang
membawa rahmat dunia-akhirat ini. Iri dengan segala kesempurnaan yang tidak
dimiliki agama mereka. Akan tetapi pelajar Islam sejati melakukan aktifitas
ilmiahnya ikhlas, karena tahu bahwa janji Allah pasti nyata. Oleh sebab itu,
akhlak menjadi awal sebelum melangkah ke proses selanjutnya dalam menuntut
ilmu.
Akan tetapi sepertinya menjaga akhlak seorang thâlibu’l ilmi hanya
menjadi wacana yang belum membudaya di kalangan mahasiswa Indonesia yang ada di
Mesir. Pasca peristiwa 30 Juni yang membuat masyarakat Mesir pecah menjadi dua
kubu, Masisir juga terpecah. Dan perpecahan ini juga berdampak pada akhlak.
Tidak bisa
kita pungkiri keberadaan ulama pada masing-masing kubu. Ada yang sekedar mengambil
posisi, hingga terlibat langsung. Mereka adalah ulama-ulama besar, ulama yang telah banyak berjasa bagi umat Islam Mesir, bahkan dunia.
Merakalah yang
menjadi acuan para mahasiswa yang juga ikut serta mengambil sikap dan
posisi, terlepas
dari latar belakang sikap tersebut. Ada
yang mengikuti seorang ulama karena kecintaan terhadap beliu. Ada juga yang
mengikuti seorang ulama sebagai murid yang pernah belajar langsung di majlis
ilmu sang guru. Ada juga yang mendukung penuh seorang ulama sebagai sikap
hormat terhadap para ulama atau berbagai alasan yang terlalu pajang untuk
dituliskan.
Penulis tidak akan membahas dan mengkaji hujah yang
disampaikan oleh para ulama masing-masing kubu. Biarlah yang demikian menjadi urusan masing-masing
pribadi. Yang menjadi poin penting di
sini adalah bagaimana akhlak seorang penuntut ilmu syariat saat dihadapkan pada
perbedaan pendapat.
Sependapat atau tidak sependapat dengan hujah seorang ulama atau kelompok
apapun merupakan sebuah kewajaran di kalangan thâlibu’l ilmi.
Menganalisis hujah-hujah serta membandingkannya juga tidak dilarang, selagi
analisis tersebut berjalan dalam kaidah yang telah digariskan oleh para ulama.
Namun saat realita bicara, maka saat kita bisa lihat sapaan diskusi adalah
sindiran tajam, bahasa dialog adalah tuduhan, argumen yang diutarakan adalah
pembunuhan karakter dan sebuah perbincangan pun dapat berakhir dengan
kebencian. Na’uzubillah!
Padahal sejak aktifitas ilmiah Islam mulai terbentuk, akhlak selalu menjadi
pondasi utama. Terbukti dengan banyaknya kitab yang dikarang mengenai hal dasar
ini, seperti al-Jâmi` li Akhlâqirrawi wa
Âdâbissâmi` karya Imam Abu Bakar al-Khatib al-Baghdady, Tazkiratussâmi`
wa’l Mutakallim fi Adâbi’l`alim wa’lmuta`allim karya Imam Ibnu Jama’ah
al-Kinnaniy, serta Ta`lîmu’lmuta`llim, kitab yang sangat familiar bagi kalangan pesantren karya Imam az-Zarnujy.
Bahkan masih banyak kitab-kitab lain yang dikarang oleh ulama untuk membahas
masalah akhlak.
Dalam kasus ini, implementasi akhlak seorang mahasiswa al-Azhar yang
moderat paling tidak akan terlihat dari bagaimana ia menerapkan manhaj
al-Azhar dalam menyikapai perbedaan.
Yang pertama, selalu menjauhi taklid setiap mengkaji
masalah. Bahkan saat menemukan dalil yang lebih kuat maka seorang thalibu’l ilmi dituntut mengambil dalil tersebut, walau tidak sesuai dengan mazhab
yang dianut. “Jangan mengenali
kebenaran lantaran tokoh, tapi carilah kebenaran itu
sendiri, maka kamu akan mengenal
tokohnya!”pesan
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
Saat seseorang terbelenggu taklid, maka saat itulah matanya buta dari
kebenaran. Padahal seorang thalibu’l ilmi dituntut untuk menganalisis sebelum
menerima, karena di sanalah perbedaan antara orang berilmu dengan orang awam.
Ada sebuah
kejadian menarik yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Beberapa
tahun yang lalu, seorang murid menyanggah pendapat seorang guru di majlis ilmu
Usul Fikih di Masjid al-Azhar. Untuk membantah sang guru, si murid berargumen
bahwasanya Syekh Fulan memandang masalah yang tengah dibahas saat itu bertentangan
dengan pemahan sang guru. Dengan tenang sang guru meluruskan cara pandang dalam menganalisis permasalahan. Beliau berkata,“Sampaikanlah dalil, jangan
menyebut Syeikh Fulan tanpa mengurangi rasa hormat
kita terhadap beliau. Mari kita analisa dalil yang dikemukankan.”
Yang kedua, sikap lapang
dada pada kelompok yang memiliki pemahaman berbeda, karena untuk sesama muslim
saja Allah memerintahkan untuk saling berbaik sangka, tentu kepada para ulama
perintah tersebut lebih ditekankan.
Yang ketiga, tidak memvonis
pribadi atau kelompok dalam dialog, karena sikap ini jauh dari ajaran Islam dan manhaj
al-Azhar. Sikap tuduh-menuduh seperti ini tentunya tidak akan menyelesaikan
masalah.
Yang keempat,
bagaimanapun
kuatnya perbedaan pendapat yang terjadi sesama ulama, biarlah itu menjadi
urusan pribadi mereka. Para ulama selalu menegaskan bahwa pertentangan
mereka harus disimpan dan tidak boleh disampaikan. Inilah kaidah berharga dalam menyikapi perbedaan yang mulai jauah
dari ranah ilmiah. Karena daging para ulama itu adalah racun.
Saat manhaj ini diterapkan, saat itulah seorang mahasiswa dapat
menganalisa dengan akal sehat sehingga ia bisa melihat sebuah kebenaran dengan
jernih, pastinya diiringi dengan akhlak terpuji. Mungkin
disinilah salah satu hikmah doa yang Sayyidina
Umar bin Khatthab,
اللهم
أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه
Wallahu a’lam.
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Informatika edisi 171/1-15 Oktober 2013
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Informatika edisi 171/1-15 Oktober 2013
