Akhlak Seorang Azhari - KMM MESIR | Official Website
Headlines News :
Home » » Akhlak Seorang Azhari

Akhlak Seorang Azhari

Written By RuwaqID on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 14.20

Oleh: Irwan Fares Dja'far

CyberKMM
-Akhlak selalu menjadi kajian menarik yang tak ada habis-habisnya. Sejak awal adanya aktifitas ilmiah keislaman, akhlak telah menjadi sebuah persoalan yang tidak dianggap remeh oleh para ulama.

Namun era moderen seolah membuat akhlak terdengar kolot bahkan tak berguna. Ilmuan-ilmuan orientalis yang notabenenya mempelajari Islam untuk mencari kelemahannya malah menjadi acuan utama.

Sebut saja Ignác Goldziher, penulis Muhammedanische Studien (Muslim Studies/Dirâsah Muahmmadiyyah), buku yang menjadi “Injil” Orientalis, mengambil istilah Dr. Mustafa al ‘Azhamy. Atau Christian Snouck Hurgronje, yang berjasa besar untuk Belanda dalam menaklukan serambi Makkah, Aceh. Ada juga William Montgomery Watt, Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, Karen Armstrong dan banyak lagi, yang bisa dijamin aktifitas belajar mereka tidak didahului dengan pembekalan akhlak.

Namun adalah sebuah kekeliruan jika para orientalis menjadi acuan seorang penuntut ilmu syariat, karena para ilmuan orientalis melakukan aktifitas ilmiah mereka karena ingin mencari titik lemah agama penuh mukjizat ini. Prof. Dr. Syamsuddin Arif mengatakan dalam buku beliau Orientalis dan Diabolisme Pemikiran bahwa hal ini didorong oleh rasa iri mereka terhadap agama yang membawa rahmat dunia-akhirat ini. Iri dengan segala kesempurnaan yang tidak dimiliki agama mereka. Akan tetapi pelajar Islam sejati melakukan aktifitas ilmiahnya ikhlas, karena tahu bahwa janji Allah pasti nyata. Oleh sebab itu, akhlak menjadi awal sebelum melangkah ke proses selanjutnya dalam menuntut ilmu.

Akan tetapi sepertinya menjaga akhlak seorang thâlibu’l ilmi hanya menjadi wacana yang belum membudaya di kalangan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Pasca peristiwa 30 Juni yang membuat masyarakat Mesir pecah menjadi dua kubu, Masisir juga terpecah. Dan perpecahan ini juga berdampak pada akhlak.

Tidak bisa kita pungkiri keberadaan ulama pada masing-masing kubu. Ada yang sekedar mengambil posisi, hingga terlibat langsung. Mereka adalah ulama-ulama besar, ulama yang telah banyak berjasa bagi umat Islam Mesir, bahkan dunia.

Merakalah yang menjadi acuan para mahasiswa yang juga ikut serta mengambil sikap dan posisi, terlepas dari latar belakang sikap tersebut. Ada yang mengikuti seorang ulama karena kecintaan terhadap beliu. Ada juga yang mengikuti seorang ulama sebagai murid yang pernah belajar langsung di majlis ilmu sang guru. Ada juga yang mendukung penuh seorang ulama sebagai sikap hormat terhadap para ulama atau berbagai alasan yang terlalu pajang untuk dituliskan.

Penulis tidak akan membahas dan mengkaji hujah yang disampaikan oleh para ulama masing-masing kubu. Biarlah yang demikian menjadi urusan masing-masing pribadi. Yang menjadi poin penting di sini adalah bagaimana akhlak seorang penuntut ilmu syariat saat dihadapkan pada perbedaan pendapat.

Sependapat atau tidak sependapat dengan hujah seorang ulama atau kelompok apapun merupakan sebuah kewajaran di kalangan thâlibu’l ilmi. Menganalisis hujah-hujah serta membandingkannya juga tidak dilarang, selagi analisis tersebut berjalan dalam kaidah yang telah digariskan oleh para ulama.

Namun saat realita bicara, maka saat kita bisa lihat sapaan diskusi adalah sindiran tajam, bahasa dialog adalah tuduhan, argumen yang diutarakan adalah pembunuhan karakter dan sebuah perbincangan pun dapat berakhir dengan kebencian. Na’uzubillah!

Padahal sejak aktifitas ilmiah Islam mulai terbentuk, akhlak selalu menjadi pondasi utama. Terbukti dengan banyaknya kitab yang dikarang mengenai hal dasar ini, seperti al-Jâmi` li Akhlâqirrawi wa Âdâbissâmi` karya Imam Abu Bakar al-Khatib al-Baghdady, Tazkiratussâmi` wa’l Mutakallim fi Adâbi’l`alim wa’lmuta`allim karya Imam Ibnu Jama’ah al-Kinnaniy, serta Ta`lîmu’lmuta`llim, kitab yang sangat familiar  bagi kalangan pesantren karya Imam az-Zarnujy. Bahkan masih banyak kitab-kitab lain yang dikarang oleh ulama untuk membahas masalah akhlak.

Dalam kasus ini, implementasi akhlak seorang mahasiswa al-Azhar yang moderat paling tidak akan terlihat dari bagaimana ia menerapkan manhaj al-Azhar dalam menyikapai perbedaan.

Yang pertama, selalu menjauhi taklid setiap mengkaji masalah. Bahkan saat menemukan dalil yang lebih kuat maka seorang thalibu’l ilmi dituntut mengambil dalil tersebut, walau tidak sesuai dengan mazhab yang dianut. Jangan mengenali kebenaran lantaran tokoh, tapi carilah kebenaran itu sendiri, maka kamu akan mengenal tokohnya!”pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.

Saat seseorang terbelenggu taklid, maka saat itulah matanya buta dari kebenaran. Padahal seorang thalibu’l ilmi dituntut untuk menganalisis sebelum menerima, karena di sanalah perbedaan antara orang berilmu dengan orang awam.

Ada sebuah kejadian menarik yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Beberapa tahun yang lalu, seorang murid menyanggah pendapat seorang guru di majlis ilmu Usul Fikih di Masjid al-Azhar. Untuk membantah sang guru, si murid berargumen bahwasanya Syekh Fulan memandang masalah yang tengah dibahas saat itu bertentangan dengan pemahan sang guru. Dengan tenang sang guru meluruskan cara pandang dalam menganalisis permasalahan. Beliau berkata,Sampaikanlah dalil, jangan menyebut Syeikh Fulan tanpa mengurangi rasa hormat kita terhadap beliau. Mari kita analisa dalil yang dikemukankan.”

Yang kedua, sikap lapang dada pada kelompok yang memiliki pemahaman berbeda, karena untuk sesama muslim saja Allah memerintahkan untuk saling berbaik sangka, tentu kepada para ulama perintah tersebut lebih ditekankan.

Yang ketiga, tidak memvonis pribadi atau kelompok dalam dialog, karena sikap ini jauh dari ajaran Islam dan manhaj al-Azhar. Sikap tuduh-menuduh seperti ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah.

Yang keempat, bagaimanapun kuatnya perbedaan pendapat yang terjadi sesama ulama, biarlah itu menjadi urusan pribadi mereka. Para ulama selalu menegaskan bahwa pertentangan mereka harus disimpan dan tidak boleh disampaikan. Inilah kaidah berharga dalam menyikapi perbedaan yang mulai jauah dari ranah ilmiah. Karena daging para ulama itu adalah racun.

Saat manhaj ini diterapkan, saat itulah seorang mahasiswa dapat menganalisa dengan akal sehat sehingga ia bisa melihat sebuah kebenaran dengan jernih, pastinya diiringi dengan akhlak terpuji. Mungkin disinilah salah satu hikmah doa yang Sayyidina Umar bin Khatthab,

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

Wallahu a’lam.


Tulisan ini  pernah dimuat di Buletin Informatika edisi 171/1-15 Oktober 2013
Share this article :
 
Copyright © 2013. KMM MESIR | Official Website - All Rights Reserved
Adress: Block 502 Complex Emarat 1st Settlement New Cairo Egypt Telp: (+202)22478245
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Modified by @salmanpiar